Pemantulan Cahaya pada Cermin Datar, Contoh Soal dan Pembahasan
Pengertian Cermin Datar
Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar
Dengan cara yang sama seperti langkah di atas, bayangan benda dua dimensi dan tiga dimensi dapat terbentuk oleh cermin datar. Proses pembentukan bayangannya sama seperti pada benda titik. Hal yang terpenting adalah dalam setiap proses pembentukan bayangan, kita harus selalu menerapkan Hukum Snellius pada Pemantulan Cahaya. Berikut ini adalah gambar proses pembentukan bayangan pada benda bukan titik.
Berdasarkan bayangan benda pada cermin datar, dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat bayangan benda yang dibentuk oleh cermin datar adalah sebagai berikut.
Perbesaran Bayangan pada Cermin Datar
Keterangan:
Contoh Soal #2
Cermin adalah keping kaca yang salah satu permukaannya sangat
halus dan di bagian belakangnya kasar berlapis emulgram perak atau lapisan
logam tipis mengkilap, sehingga tidak tembus cahaya serta bagian permukaan
halusnya dapat memantulkan semua berkas cahaya yang datang. Suatu cermin yang permukaan pantulnya berupa
bidang datar disebut dengan cermin datar.
Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar
Sebelum kalian dapat
memahami bagaimana proses terjadinya pembentukan bayangan benda pada cermin
datar, kalian harus paham tentang konsep Hukum Snellius pada pemantulan cahaya. Apabila sudah mengerti, coba perhatikan
gambar di bawah ini.
Cermati gambar di atas,
titik S’ merupakan bayangan dari titik S. Adapun proses pembentukan
bayangan pada cermin datar adalah sebagai berikut.
■ Sinar datang SP1 (sinar 1) jatuh
pada cermin datar dengan sudut datang θ1, kemudian sinar ini dipantulkan.
Perhatikan jalan sinar 1.
■ Sinar datang SP2 (sinar 2) jatuh
pada cermin datar dengan sudut datang θ2, kemudian sinar ini dipantulkan.
Perhatikan jalan sinar 2.
■ Perpanjangan sinar
pantul 1 dan sinar pantul 2 di belakang cermin dilukiskan dengan garis
putus-putus dan berpotongan di titik S’.
Dengan demikian, letak bayangan titik S adalah S’ yang dibentuk dari
perpotongan perpanjangan dua sinar pantul.
|
Dengan cara yang sama seperti langkah di atas, bayangan benda dua dimensi dan tiga dimensi dapat terbentuk oleh cermin datar. Proses pembentukan bayangannya sama seperti pada benda titik. Hal yang terpenting adalah dalam setiap proses pembentukan bayangan, kita harus selalu menerapkan Hukum Snellius pada Pemantulan Cahaya. Berikut ini adalah gambar proses pembentukan bayangan pada benda bukan titik.
Sifat-Sifat Bayangan
pada Cermin Datar
Untuk benda yang bukan
berupa titik atau garis, kalian akan mendapatkan bahwa ukuran bayangan benda
persis sama dengan ukuran bendanya. Benda dan bayangan hanya berbeda dalam hal
arah kiri dan kanannya. Coba kalian amati gambar berikut ini.
Bagian kiri objek menjadi bagian kanan bayangan dan sebaliknya, bagian kanan objek menjadi bagian kiri bayangan. Peristiwa ini disebut denganpembalikan sisi (lateral inversion). Oleh karena adanya pembalikan sisi ini, tulisan yang hendak dibaca melalui cermin, penulisan hurufnya harus dibalik.
Bagian kiri objek menjadi bagian kanan bayangan dan sebaliknya, bagian kanan objek menjadi bagian kiri bayangan. Peristiwa ini disebut denganpembalikan sisi (lateral inversion). Oleh karena adanya pembalikan sisi ini, tulisan yang hendak dibaca melalui cermin, penulisan hurufnya harus dibalik.
Berdasarkan bayangan benda pada cermin datar, dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat bayangan benda yang dibentuk oleh cermin datar adalah sebagai berikut.
■ Bersifat semu (maya),
karena bayangan yang terbentuk berada di belakang cermin. Bayangan maya yaitu
bayangan yang terjadi karena pertemuan perpanjangan sinar-sinar cahaya,
sedangkan bayangan nyata adalah bayangan yang terjadi karena pertemuan langsung
sinar-sinar cahaya (bukan perpanjangannya).
■ Tegak dan menghadap ke
arah yang berlawanan terhadap cermin (berkebalikan).
■ Ukuran bayangan sama
dengan ukuran benda.
■ Tinggi benda sama dengan
tinggi bayangan.
■ Jarak benda terhadap
cermin sama dengan jarak bayangan terhadap cermin.
Perbesaran Bayangan pada Cermin Datar
Berdasarkan sifat-sifat
bayangan yang dibentuk oleh cermin datar di atas, kita ketahui bahwa tinggi dan
jarak bayangan terhadap cermin datar itu sama dengan tinggi dan jarak benda
terhadap cermin. Perbandingan tinggi bayangan dengan tinggi benda pada cermin
disebut perbesaran bayangan. Pada cermin datar, perbesaran bayangan
dirumuskan sebagai berikut.
M
|
=
|
h'
|
=
|
s’
|
=
|
1
|
h
|
s
|
Keterangan:
M = perbesaran bayangan
h' = tinggi bayangan
h = tinggi benda
s = jarak benda ke
cermin
s’ = jarak bayangan
ke cermin
Persamaan di atas
memberikan arti bahwa tinggi bayangan (h’) sama dengan tinggi benda (h) dan
jarak benda ke cermin (s) sama dengan jarak bayangan ke cermin (s’).
Jumlah Bayangan pada 2
Cermin Datar
Jika sebuah benda berada
di antara dua cermin atau lebih yang disusun membentuk sudut tertentu,
bagaimanakah jumlah bayangan yang terbentuk pada kedua cermin? Ya, benda akan
mempunyai bayangan lebih dari satu. Coba kalian perhatikan pembentukan bayangan
pada titik yang terletak pada dua cermin datar yang saling tegak lurus berikut
ini.
Apabila sebuah benda berada di depan dua buah cermin yang membentuk sudut θ satu sama lain, maka akan terbentuk sejumlah bayangan. Jumlah bayangan bergantung pada berapa besar sudut θ. Berdasarkan hasil eksperimen, jumlah bayangan yang dibentuk oleh dua buah cermin datar yang membentuk sudut θ dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
Apabila sebuah benda berada di depan dua buah cermin yang membentuk sudut θ satu sama lain, maka akan terbentuk sejumlah bayangan. Jumlah bayangan bergantung pada berapa besar sudut θ. Berdasarkan hasil eksperimen, jumlah bayangan yang dibentuk oleh dua buah cermin datar yang membentuk sudut θ dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
n
|
=
|
360°
|
−
|
1
|
θ
|
Keterangan:
n = jumlah bayangan
θ = sudut apit
kedua cermin
Contoh Soal dan
Pembahasan
Agar kalian dapat
mengetahui penerapan konsep dan persamaan pemantulan cahaya pada cermin datar
untuk menganalisis kejadian dalam kehidupan sehari-hari, perhatikan beberapa
contoh soal dan jawabannya berikut ini.
Contoh Soal #1
Amin berdiri di depan
sebuah cermin. Bagian bawah cermin berada pada ketinggian tertentu dari lantai.
Tinggi badan Amin adalah 160 cm dan jarak mata dengan kepala bagian atas 10 cm.
Perhatikan gambar di bawah ini.
Berapakah tinggi dan panjang cermin yang dipakai agar seluruh badan Amin tampak di cermin?
Berapakah tinggi dan panjang cermin yang dipakai agar seluruh badan Amin tampak di cermin?
Penyelesaian:
Diketahui:
hA = AC = 160 cm
CD = 10 cm
Ditanyakan: Tinggi
cermin (GF) dan panjang cermin (EF)
Jawab:
Untuk menjawab
pertanyaan ini, terlebih dahulu kita harus menggambarkan jalannya sinar sampai
terbentuk bayangan seperti yang diperlihatkan pada gambar berikut ini.
Sinar yang datang dari ujung kaki akan dipantulkan sehingga tertangkap mata. Karena sudut datang sama dengan sudut pantul, maka segitiga AFC merupakan segitiga sama kaki, sehingga:
Sinar yang datang dari ujung kaki akan dipantulkan sehingga tertangkap mata. Karena sudut datang sama dengan sudut pantul, maka segitiga AFC merupakan segitiga sama kaki, sehingga:
AB = BC = ½ AC
AB = ½
(160 – 10)
AB = ½ (150)
AB = 75 cm
Tinggi cermin, GF = AB =
75 cm
Jadi, tinggi cermin dari
lantai adalah 75 cm.
Sekarang kita lihat
sindar dari bagian atas kepala. Sinar tersebut mengakibatkan:
EO = ½ CD
EO = ½ × 10
EO = 5 cm
Panjang cermin (EF)
adalah sebagai berikut
EF =
EG – FG – EO
EF =
160 – 75 – 5
EF = 80 cm
Dengan demikian, panjang
cermin yang dibutuhkan adalah 80 cm yang diletakkan 75 cm dari lantai.
Contoh Soal #2
Sebuah benda terletak di
depan 2 buah cermin datar yang membentuk sudut 60°. Tentukanlah jumlah bayangan
yang terbentuk.
Jawab:
Jawab:
Diketahui:
θ = 60°
n =
(360°/θ) – 1
n =
(360°/60°) – 1
n = 6 – 1
n = 5
Jadi, jumlah bayangan
yang terbentuk 5 buah.






Comments
Post a Comment